Entri Populer

Jumat, 18 September 2009

Horizon - Puisi



Risalah Ambang
Bau tanah terasa berpendar-pendar
Diangkat angin terbang berpusar
Dingin menelusup menembus pikiran hingga nafasku sesak
Singgah sejenak di depan gerbang jiwa yang hampir mati
Risau dan jengah oleh kerasnya batu
Tak ada suara, tak ada air mata
Kapankah hati manusia luluh oleh kata-kata?

Pepohonan tumbuh bersilang saling memberi ruang
Perlahan merambat tanpa riuh
Memilih makna sambil setia pada diam
Menjaga nafas bumi siang dan malam
Menelan racun demi kehidupan
Setelah itu ia kembali diam
Bisakah manusia mengerti arti pengorbanan?

Jalan berliku meliuk tak berujung
Diterpa hujan menjadi becek
Sekali waktu merentang seolah panjang
Menggoda makhluk agar kuat hidup berpantang
Seribu jalan seribu pilihan
Menjadi warna-warni kembang kehidupan
Bukankah hidup memang soal pilihan?

Lamat-lamat kabut menghampiri
Bergulung pelan tanpa suara menelan
Melukis hitam dengan putih
Menghapus seluruh jejak lazuardi senja
Seratus kunang-kunang terbang rendah meneranginya
Coba menghapus gelap meski jua tak kuasa
Sanggupkah berdusta pada diri sendiri?
Sebuah mata air adalah sejuta penghidupan
Pelipur lara bagi selaksa air mata dunia
Mata air mengalir menjadi sungai
Kejar mengejar tiba ditengah samudera
Membawa serta rahasia suci pencipta
Sejuta bahasa tak akan mampu menjangkaunya
Sudahkah kita mengenal jiwa yang paling tenang?

Hujan jatuh membawa beribu bulir air
Silih berganti menyentuh pepohonan tinggi menjulang
Terus mengalir mencium tanah
Tanpa harus timbulkan suara ribut percuma
Dengarlah sambil menutup mata
Sejatinya ia adalah tembang surgawi seluruh irama
Hujan selalu berkata:
Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan

Puncak gunung adalah singgasana kearifan
Tempat langit bersenandung menyapa bumi
Bercerita tentang harmoni siang malam
Saat dingin kabut berpeluk mesra
Sepasang mata bening sedang mengeja hakikat kehidupan
Membaca lebih jernih lembar-lembar qauniyah
Dan Ingatlah:
Seluruh alam adalah dirimu sendiri!


Ibe Wanuata,
Puncak Ambang, Agustus 2009



Rentang Ambang
I libu bulud lopa’ balangon
Ini negeri di kaki merapi dan puncakpuncak
Hidup yang tertutup kabut awan antara hijau hutan
Ilalangilalang meningkahi loronglorong pernafasanMenghirupi asap belerang
Dengan aroma panggang matahari
Angin melerai dada dengan berpuluh puluh
Arahnya

Angkasa tetap memelukku dengan pagi
Kali ini tanpa embun
Hanya biru dan terang matahari
Lebur tiap indra
Di celah antara hitam batuan
Dan putih cadas baur kapur


2

Dalam debu yang jadi nafas bara
Dilingkar kita kali ini
Masih ku kalikan arah sedikit bintang
Dengan mata angin yang menciumi ilalang

Wangi ambang membawa
Repih repih kabar dari bumi totabuan
Adakah hangat udara masih mendesirkan mimpi
Tentang masa depan
Ketika kita mendaki
Menantang pucuk pucuk perjalanan
Pada tapak yang menepi
Antara ngarai dan sisi duri damar hutan
Akh,
Perjalanan ini hanya terhenti ditanah datar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar