Bulletin PENA MERDEKA
Pengantar Redaksi
Alhamdulillah, syukur kepada pencipta akhirnya harapan untuk memiliki arena kelola gagasan, pikiran, dan kreasi pengetahuan bisa diwujudkan melalui penerbitan bulletin PENA Merdeka. Kerja ini didasarkan atas dua hal: pertama, realitas masyarakat yang makin rumit dan kompleks harus difahami dengan cara mengurai satu persatu dimensinya. Dan tentu saja ini membutuhkan kesabaran penuh. Kedua, proses interaksi pengetahuan terus mengalami defisit serius. Sejauh ini semua terlokalisir bahkan terkunci oleh corak pengetahuan ala “jurnalisme pasar” yang hanya menempatkan pembaca sebagai ‘konsumen informasi’ tanpa kedaulatan sedikitpun. Bulletin ini dimaksudkan sebagai stimulasi untuk memberi daya dorong yang cukup dalam membangun tradisi literasi dengan corak kontekstual, historis dan penuh nuansa lokalitas. Bulletin PENA MERDEKA adalah arena merdeka untuk menuliskan pikiran-pikiran, pengetian-pengertian, dan laku hidup merdeka dalam segala hal.
Rumah belajar Lipu’ kobayagan(eLKa) yang telah berjalan setahun lebih, menjadikan penerbitan bacaan berkala apakah dalam bentuk selebaran, bulletin, atau jurnal, sebagai hal mutlak. Meski tertatih, pencapaian kearah sana mesti dikerjakan. Konsolidasi gagasan haruslah dimaterialisasi kedalam proses produksi pengetahuan sesederhana apapun. Karena itu selain menggelar diskusi, studi analisis, pustaka baca, rumah belajar eLKa juga merasa penting mulai “belajar” menuliskan sekaligus mendokumentasikan berbagai hal terkait realitas ditiga matra: global, nasional dan lokal. Bukan soal banyak atau sedikit, tapi pentahapan dan “akumulasi pengetahuan” harus dikerjakan, jika tidak ingin tertinggal dibelakang semua orang.
Dalam konteks Bolaang Mongondow, sangat banyak jejak sejarah dan fakta sosial, ekonomi, politik, tak pernah dihadirkan sebagai pengetahuan yang membuat masyarakat lokal mengerti bagaimana menjadikan masa lalu dan masa kini sebagai energi gerak menghadapi masa depan. Situasi politik pemerintahan masih penuh masalah, gerak ekonomi masih bimbang, dan kultur sosial dalam penjara “mentalitas terbelah” jadi pemberi sumbangan terbesar bagi keengganan untuk bertarung merebut berbagai kesempatan dan kesamaan proses di bangsa ini. Akhirnya dalam banyak kasus kita temukan, elit politik, kelas menengah, hingga masyarakat umum, telah kalah lebih dahulu sebelum bertarung. Tentu situasi ini tak bisa dibiarkan terus berlangsung.
Bulletin PENA MERDEKA akan terbit sebulan sekali. Dalam edisi perdana ini kami mencoba mengeksplorasi ragam gagasan mulai dari refleksi atas situasi politik nasional, informasi sejarah Bolaang Mongondow, kondisi geografi dan ekologi bolmong, hingga kumpulan puisi reflektif. Meski masih sangat terbatas, namun besar harapan kami pembaca sekalian memberikan berbagai masukan, saran, dan kritik untuk perbaikan di edisi selanjutnya. Semoga segala niat baik, segala pikiran jernih, dan kerja keras bersama, kita bisa menggeser batas-batas peradaban bangsa lebih luas dari hari kemarin. Dititik inilah, Rumah Belajar Lipu’ Kobayagan lewat Bulletin PENA MERDEKA ingin mengambil bagian dalam kerja besar menggerakkan kebangkitan angkatan muda Indonesia, khususnya di tanah Bolaang Mongondow. Kami percaya pada kalimat populer Subcomandante Marcos: KATA ADALAH SENJATA!. Selamat Membaca!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar