Entri Populer

Jumat, 18 September 2009

Suara Hijau

Bolaang Mogondow Bersatu Dalam Prespektif Geografi
Saipul Amrin

Latar geografis bolaang mongondow bersatu

Kalu berbicara mengenai bolaang mogondow bisanya banyak yang melihat,menganalisis dan menafsirkan dari sebuah fakta /sudut pandang dan sampai kepada cerita-cerita yang beredar dari mulut kemulut dimasyarakat dan fakta-fakta itu adalah fakta politik,ekonomi,social dan bahkan sampai kepada tatanan budaya tapi penulis mencoba melihat bolaang mogondow dari prefektif atau sudut pandang geografis. Dari keadaan geografis Kabupaten Bolaang Mongondow merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di Provoinsi Sulawesi Utara, terletak antara 00 30' - 10 lintang utara 1230 - 1240 bujur timur.Batas - batasnya meliputi :Sebelah utara : Laut Sulawesi,Sebelah timur : Minahasa selatan,Sebalah selatan : Teluk Tomini,Sebalah barat : Provinsi Gorontalo Luas wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow 8.358,04 Km2 atau 54,5% dari luas Provinsi Sulawesi Utara. Wilayah tersebut terbagi dalam 4 kabupaten dan 1 kota madya terdiri dari kab.bolaang mongondow, kab.bolaang mongondow selatan, kab.bolaang mongondow timur, kab.bolaang mongondow timur ,dan kota madya kota mobaggu ,
Kabupaten Bolaang Mongondow adalah kabupaten di provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Ibukotanya adalah Kotamobagu.. Etnis Mayoritas di kabupaten ini adalah Suku Mongondow. Bahasa ibu penduduk asli di daerah ini adalah Bahasa Mongondow.Terdiri dari kecamatan: 1.Bolaang ,Bilalang,Dumoga Barat,Dumoga Timur,Dumoga Utara ,Lolak,Lolayan,Passi Barat,Passi Timur,Poigar
Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia dengan pusat pemerintahan berada di Bolaang Uki. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2008, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Bolaang Mongondow. Peresmian dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri, Mardiyanto, di Manado hari Selasa, 30 September 2008. [1]

Kabupaten Bolaang Mongondow Utara adalah sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Ibukotanya adalah Boroko. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2007, pada tanggal 2 Januari 2007.Terdiri dari Kecamatan :Bintauna,Bolaang Itang Barat ,Bolaang Itang Timur,Kaidipang ,Pinogaluman ,Sangkub
Kabupaten Bolaang Mongondow Timur adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia dengan pusat pemerintahan berlokasi di Tutuyan. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2008, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Bolaang Mongondow. Peresmian dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri, Mardiyanto, di Manado hari Selasa, 30 September 2008.Terdiri dari Kecamatan :Tutuyan ,Kotabunan ,Nuangan ,Modayag, Modayag Barat
Kota Kotamobagu adalah sebuah kota di provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Kota ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2007, pada tanggal 2 Januari 2007.Jumlah Penduduk: 97.993 Jiwa ,Terdiri dari Kecamatan :Kotamobagu Utara ,Kotamobagu Timur,Kotamobagu Selatan,Kotamobagu Barat
penduduk
Sedangkan penduduk Kabupaten Bolaang Mongondow bersatu hingga akhir tahun 2006 berjumlah 493.172, yang terbagi menurut jenis kelamin laki-laki 255.376 jiwa dan Perempuan 237.796 jiwa

Berdasarkan undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2007 tentang pembentukan kota Kotamobagu dan undang-undang Republik Indonesia nomor 10 tahun 2007 tentang pembentukan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Dengan demikian secara administratif dan geografis Kabupaten Bolaang Mongondow telah mengalami perubahan Luas Wilayah bolaang Bolaangmongondow bersatu saat ini 6.379,27 Km2 atau 41,6% dari luas Provinsi Sulawesi Utara. Wilayah tersebut terbagi dalam 17 Kecamatan, 226 Desa dan 2 Kelurahan. Sedangkan penduduk Kabupaten Bolaangmongondow setelah pemekaran tahun 2007 berjumlah 237..472 jiwa

Keadaan Alam
Terdapat 17 Gunung di Bolaang Mongondow. Yang tertinggi adalah Gunung Batu Bulawan dengan ketinggian 1.970 m, sedangkan yang paling rendah adalah Gunung Mongaladia dengan ketinggian 1.325 m, keduanya terletak di Kecamatan Bolaang Uki. Tercatat ada satu Gunung Berapi yang pernah meletus pada Tahun 1939, yaitu Gunung Ambang kecamatan modayag dengan ketinggian daripermukaan laut mencapai 1.689 m dan daerah bahaya sekitar 6,9 km2, serta daerah waspada dinyatakan sekitar 70,2 km2. hal ini tentu saja memerlukan pengamatan yang intensif dari berbagai piha yang berwenang bengenai baigaimana perkembagan dan aktifitas gunung Ambang pasca letusan tahun 1939
Kabupaten Bolaang Mongondow memiliki 18 sungai.Sungai terpanjang yaitu sungai Dumoga, mengalir sepanjang 87 Km dan yang terpendek adalah sungai Salongo yang panjangnya 9,1 Km. Keberadaan sungai-sungai ini sangat bermanfaat bagi sektor pertanian masyarakat Bolaang Bongondow bersatu, sehingga sektor ini tetap merupakan mata pencaharian utama bagi sebagian besar penduduk Bolaang Mongondow bersatu.Selain sungai, terdapat buah danau, yang terluas adalah Danau Moat yang luasnya 617 Ha dan yang terkecil adalah Danau Tondok seluas 10 Ha.Bolaang Mongondow bersatu memiliki ketinggian yang bervariasi , kecamatan tertinggi adalah modayag dengan ketinggian 650 M dari permukaan laut, selanjutnya kecamatan Passi dengan ketinggian 450 M, diikuti oleh kecamatan Kotamobagu dan Dumoga. Sementara kecamatan disekitar pantai hanya memiliki ketinggian 1 - 2 M dari permukaan laut.

Iklim
Klasifikasi iklim di Indonesia menurut Oldeman (1975) didasarkan atas jumlah
kebutuhan air oleh tanaman dimana periode tahunan dibagi atas jumlah
basah dan jumlah bulan kering yang berturut-turut. Berdasarkan
jumlah bulan basah terdapat 5 tipe iklim, yaitu:
• Tipe A : > 9 bulan basah
• Tipe B : 7-9 bulan basah
• Tipe C : 5-6 bulan basah
• Tipe D : 3-4 bulan basah
• Tipe E : < 2 bulan basah
Berdasarkan pengelompokan ini, tipe iklim
dapat golongkan menjadi :
• Tipe A Kab. Sangihe Talaud sebagian, pantai utara Kab. Minahasa, wilayah
pegunungan (pedalaman) Kab. Minahasa, wilayah dataran.
• Kota Momagu Kabupaten Bolaang Mangondow.
• Tipe B Wilayah pantai timur, pantai selatan & pantai utara Kab. Minahasa
Pantai selatan & pantai utara Kab. Bolaang Mongondow. Dataran Kab. Bolaang Mongondow
• Jenis Tanah Jenis tanah pada lahan berbukit didominasi tanah latasol.
Ketinggian wilayah bervariasi dari 0 – 1500 m dpl,
Lahan pertanian dengan ketinggian 700 – 1150
m dpl terbatas pada kawasan pertanian : tomohon dan
Modoinding – passi – Modayag
digunakan untuk pengembangan sayur-sayuran dataran tinggi dan tanaman palawija.

Adapun jenis tanah yang ada di Sulawesi Utara adalah sebagai berikut :
• Latosol, luas 847.884 Ha ( Kota Manado, Kab. Sangihe, Kab. Talaud, Kab,
Minahasa, Kab. Bolaang Mangondow).
• Andosol, luas 263.388 ha (Kab. Minahasa dan Kab. Bolaang Mongondow)
• Rogosol, luas 22.265 Ha (Kab. Minahasa dan Kota Bitung)
• Aluvial, luas 52.501 Ha (Kab. Minahasa).
• Padsolik, luas 203.958 Ha (Kab. Bolaang Mongondow, Kab. Sangihe dan Kab. Talaud).
• Soil Kompleks, luas 795 Ha (Kab. Bolaang Mangondow, Kab. Minahasa, Kab. Sangihe,Kota Manado , Kota Bitung).
Pada tempat-tempat tertentu ditemukan tipe iklim C dan D yaitu sebagaian Kab.
Bolaang Mongondow. Bulan-bulan kering yang menyebabkan kerugian hampir setiap
tahun terjadi. Secara umum kekeringan 3 – 5 bulan dalam satu tahun yaitu pada
bulan Juni-Oktober rentan terjadi dalam jangka waktu 5 tahun.



Pertanian dan Perkebunan: Padi, Jagung, Kacang Tanah, Kedelai, Singkong, Ubi Jalar, Kentang, Nenas, Kelapa, Cengkeh.
Pertambangan: Emas, Tembaga, Besi, Kaolin, Bentonit, Belerang, Batu Gamping, Batu Lamping, Pasir Kuarsa, Mangan. Pasir, Batu Sirtu
Perikanan dan Kelautan: Ikan Demersil, Ikan Plagis, Ikan Tuna, Ikan Cakalang.
Budidaya: Udang, kepiting, Ikan Air Tawar..
Kehutanan: Meranti, Agatis, Nyato, Cempaka, Rotan, Gondrukem, Damar.
Objek Wisata: Pantai Lolan, Tanjung Ompu, Pulau Tiga, Air Panas Bakan, Kolam Desa Tudu Aog

Pola Ekologis masyakat bolaang mongondow
Gambaran diatas merupakan pendekatan geografi,kalau berbicara geografis berarti merujuk kepada suatu ilmu bumi dimana mengkaji gejala-gelala litosfer,atmosfer, hidrosfer dan ada siklus alam misalnya siklus hujan,siklus hujan ini dipengaruhi oleh keseimbagan alam dan ekosisitem hutan karena hutan bisa menyimpan air dan menjaga agar wilayah aliran sungai tidak banjir saat hujan dan kering saat musim panas,faktor geografi hubungkan dengan pola kehidupan masyakat sekitar atau dengan pola pendekatan ekologi dimana Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Berarti topografi alam/lingkungan ini bisa mempengaruhi kehidupan masyarakat dari pola hubungan antara masyakat dengan alam hingga pola hubungagn masyakat dan masyarakat,cara penghormatan kepada alam sampai kepada tata social dan pola ekonomi misalnya
dikisahkan penduduk awal mogondow Penduduk asli Bolaang Mongondow berasal dari keturunan Gumalangit dan Tendeduata sertaTumotoibokol dan Tumotoibokat, awalnya mereka tinggal di gunung Komasaan (Bintauna). Kemudian menyebar ke timur di tudu in Lombagin, Buntalo, Pondoli', Ginolantungan sampai ke pedalaman tuduin Passi, tudu in Lolayan, tudu in Sia', tudu in Bumbungon, Mahag, Siniow dan lain-lain. Peristiwa perpindahan ini terjadi sekitar abad 8 dan 9. Dan juga diceritakan Tadohe dikenal seorang Datu yang cakap, sistem bercocok tanam diatur dengan mulai
dikenalnya padi, jagung dan kelapa yang dibawa bangsa Spanyol pada masa pemerintahan Mokoagow (ayah Tadohe). Tadohe melakukan penggolongan dalam masyarakat, yaitu pemerintahan(Kinalang) dan rakyat (Paloko’). Paloko’ harus patuh dan menunjang tugas Kinalang, sedangkanKinalang mengangkat tingkat penghidupan Paloko’ melalui pembangunan disegala bidang, sedangkan kepala desa dipilih oleh rakyat.kita bias melihat bagaiman factor geografi ( Gunung dan Tanah/Tanaman Padi ) menjadi salah satui hubungan yang tidak bisa dipisahkan dengan masyakat bolaang mongondow
Tantangan Dan Ancaman
Akan tetapi karena perkembagan teknologi dan Ekspansi ekonomi/modal dari luar di bidang pertanian,perikanan,perkebunan,pertambagan sampai kepada sector non ril serta perkembagan wilayah administrasi pemerintahan yang cendurung modern dan kadang mengabaikan nilai lokalitas leluhur bolaang mpngondow sendiri hingaga kepada bentuk yang memprihatinkan seperti kasus pencemaran oleh tambang sampai pada perkebunan yang semakin marak di Boltim dan Bolsel yang mengabaikan faktor biotik ( hidup) dan abiotik (tidak hidup) seperti yang ditulis oleh Suara
Pembaruan, 4 Desember 1992).
selama dasawarsa terakhir ratusan keluarga petani suku Mongondow dan migran Minahasa dan Sangir di Lembah Dumoga dipaksa keluar tidak cuma dari hutan Taman Nasional Dumoga-Bone, melainkan juga dari dataran Dumoga di Kabupaten Bolaang Mongondow. Konon itu demi melindungi kelestarian daerah tangkapan air Proyek Irigasi Dumoga, serta bendung Toraut yang merupakan bagian dari proyek itu, yang dibiayai dengan pinjaman rakyat Indonesia sebesar 60 juta dollar AS dari Bank Dunia (lihat
G.J. Aditjondro, "Nasib penduduk asli Mongondow di Sulawesi Utara", Suara
Pembaruan, 4 Desember 1992).
Semoga tulisan awal bisa awal atau diteruskan dan kepada pemerhati lingkungan di daerah bolaang mogondow bersatu baik masyarakat,Lsm,akasemisi dan pemerintah jangan Cuma jadi pemuas sesat yang dinikmati oleh beberapa golongan dan megabaikan nilai-dari alam itu sendiri karena kerusakan salah satu unsur alam (air,tanah,hutan dll) bisa mempenggaruhi unsur-unsur yang lain hingga bisa menggakibatkan korban materi maupun nyawa hingga meninggalkan kerusakan hutan dan penderitaan untuk anak-cucu kita.

tulisan ini masih butuh pembenahan nanti kak yang edit jo nanti kita tulis artikel dan dari teman-teman tentang ekologi bolmong terimakasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar