Studi Sejarah Dan Kebudayaan :
Menemu-Kenali Nalar, Mental, Dan Gerak
Masyarakat Bolaang Mongondow
Kisaran Sejarah
Indonesia adalah fakta politik, ekonomi, sosial yang tak bisa lepas begitu saja atas gerak sejarah masa lalu. Masyarakat kita tidak bersentuhan dalam pola dan ritme sama ketika berbagai arus global silih berganti hadir. Sejarah masyarakat Indonesia ribuan tahun berlatih dalam bentuk kolektivisme paling dasar(sosial-kultural), lalu selama 18 Abad( 4 SM – 14 M) berlatih dalam tata kerajaan, dan sejak 1700-an akhir, logika ekonomi dan model politik Eropa mengajarkan liberalisme-kapitalisme-rasionalisme hingga penyusunan negara modern: negara bangsa(nation state). Hingga kini, kita tidak pernah merunut secara detil bagaimana rute dan patahan sejarah bangsa Indonesia baik sejak era mengenal tata pemerintahan modern, maupun saat masih menganut pola demokrasi perwakilan awal, atau sekadar hanya dalam bentuk tata sosial paling dasar: konfederasi etnik/perserikatan kampung berdaulat. lalu bagaimana bisa kita merasa telah mengenal utuh masyarakat, bangsa, dan negara ini?
Ketika pengaruh Eropa masuk, Sulawesi tampil dalam tiga wajah: kerajaan-kesultanan, persekutuan Etnik terbuka, dan kampung/masyarakat adat/komunitas tertutup. Ini fakta suku-bangsa Sulawesi. Sebaliknya, di tingkat ’ekspansionis Eropa’ sendiri, mereka memiliki motif umum yang sama: berlomba saling berebut sumber-sumber produksi hasil bumi terbesar didunia. Di level metode berhubungan ada pola yang tidak tunggal, mulai dari diplomasi paling halus hingga perang paling keras diterapkan. Tidak seluruh wilayah juga dijadikan sasaran/objek operasi politik-ekonomi. Mereka menyusun prioritas dan standar tindakan disemua wilayah yang telah dikategori. Saasaran utama adalah rantai kerajaan/kesultanan yang memiliki pangkalan pelabuhan dagang besar seperti Aceh, Palembang, Banten, Demak, Tuban, Gowa-Tallo, Ternate-Tidore. Kedua, negeri-negeri penghasil langsung sumber-sumber pangan dan hasil bumi sesuai pesanan pasar Eropa(Bengkulu, Riau, Banjarmasin, Bali, Maluku). Ketiga, negeri-negeri tanpa produksi ekonomi dominan tapi potensial menjadi lawan/pengganggu. Bolaang Mongondow ada diantara sekian kerajaan yang jadi prioritas Eropa. Mereka banyak menerapkan diplomasi dan politik kebudayaan sebagai cara menggandeng para Raja.
Bolaang Mongondow adalah satu kenyataan yang selama ini ”bernada minor”, ter-(di)-abaikan oleh cara baca sejarah ’arus utama’, dan sekali waktu hadir hanya sebagai pelengkap bicara. Sedang dengan melihat selintas saja, kita bisa mendapatkan banyak deskripsi sejarah ”besar” tentang sebuah tatanan dan dialektika masyarakat. Di Sulawesi Utara, Bolaang Mongondow tidak hanya dominan secara geografis(60 persen dari total wilayah), tapi memiliki tapak sejarah dengan daya jelajah yang lebih luas. Ini berlangsung terutama dimasa-masa sebelum kolonialisme Eropa hadir di Nusantara. Gerak sejarah masyarakat Bolaang Mongondow Tidak hanya terbentuk dalam logika tata sosial semata, tapi meningkat hingga ke tahap tata negara. Dari konsolidasi antar Lipu’ maju lagi menjadi kerajaan, persekutuan antar empat kerajaan besar, bahkan ’konon’ pernah jadi imperium besar. Berbeda dengan Minahasa yang hanya berhenti pada fase persekutuan watu pinawetengan. Karena itulah Bolaang Mongondow adalah ”sumber pengetahuan” yang penting disimak dalam tiap lembar sejarahnya.
Ranah Wicara
Studi Sejarah Dan Kebudayaan Bolaang Mongondow diharapkan menjadi arena ’konsolidasi pengetahuan’ dan pergulatan awal menerjemahkan jati diri masyarakat Bolaang Mongondow ditengah dua hal: rute/jejak sejarah yang makin kabur dan tekanan arus budaya global yang menusuk hingga pedalaman terjauh(monokulturalisme via multimedia). Sebab jika situasi ini berlarut, maka sikap gamang bahkan laku hidup tanpa identitas terukur bisa benar-benar menenggelamkan Bolaang Mongondow, sebagai cerita masa lalu saja. Bukankah ironis melihat satu masyarakat tanpa defenisi kehidupan sama sekali. Selalu kaget, sekadar ikut-ikutan, dan mudah larut pada sesuatu tanpa difahami dengan baik. Dengan melihat lagi lebih dalam atas dinamika sejarah mulai dari yang telah mendapat ruang besar selama ini, hingga tema-tema ”yang tak dianggap” maka deskripsi atas eksistensi masyarakat Bolaang Mongondow bisa tetap terjaga.
Postur yang diharapkan hadir keketika membaca Bolaang Mongondow setidaknya merangkum lima hal berikut :
1. Sejarah Spritualisme, mistisisme, dan agama di Bolaang Mongondow sejak awal hingga kini. Bagaimana proses perjumpaan antara agama lokal dengan gelombang agama-agama baru yang datang bergantian. Adakah retak psiko-sosial atau rasa tak tersambung penuh, bahkan patahan keyakinan dimasyarakat setiap pindah ruang agama berlangsung?. Sebab telah menjadi ’rumus umum’, betapa dengan mudahnya vonis dan pelabelan ”kafir”, ”sesat”, ”dinamisme”, ”Animisme”, dilekatkan pada masyarakat Indonesia pra-Islam, Katholik, Kristen. Mereka dianggap komunitas sosial tanpa tuhan atau tanpa agama. Soal ini tentu perlu diluruskan lewat cara baca proporsional atas sejarah. Ini adalah wilayah ruang batin terdalam dari masyarakat. Selain itu kita juga perlu menyimak Pola dan Strategi kebudayaan apakah yang pernah digunakan oleh kaum agamawan diBolaang Mongondow untuk menjaga spirit keagamaan masyarakat terjaga baik?.
2. Kosmologi dan tafsir ekologis yang selama ini dijadikan sebagai energi sosial menjaga keseimbangan hubungan dalam konteks dimensi ruang dan relasi manusia-alam di Bolaang Mongondow. Jika disimak, cerita tentang gumalangit: turun dari langit, Tumotoi Bokol: meniti dari ombak, tumotoi bokat: keluar dari pecahan ombak, mokodoludut: lahir dari telur, baunia: bambu kuning, adalah cara leluhur Bolaang Mongondow menunjukkan relasi manusia-alam tak bisa dipisahkan. Kita perlu memahami, apa arti gunung-hutan-laut-sungai-danau dimasa lalu. Sering kali semua cerita-cerita ini ditaruh sebagai mitologi saja, tanpa diteruskan ke fase pengetahuan selanjutnya. Bukankah Nalar Eropa juga berakar dari Mitologi Yunani Purba?
3. Lalu tentang Pola Tata Sosial. Dari dasar Spritualisme dan Kosmologi, tata kelola masyarakat diramu, diatur agar berfungsi menghidupkan komunitas. Dari sinilah spirit kolektivisme kultural dan ekonomi kolektif bertumbuh. Kita mengenalnya sebagai: Pogogutat, Pototolu adi’(persaudaraan dalam ikatan kekeluargaan), Tonggolipu’(Keikatan rasa sekampung), dan Posad atau Moposad(Gotong royong). Bangunan sosial sifatnya perserikatan atau persekutuan antar lipu’/lipung yang dipimpin para Bogani menunjukkan sebelum fase kerajaan, Bolaang Mongondow bersifat konfederatif. Kepemimpinan pun tidak monoton dalam klaim pria, terbukti dengan eksistensi bogani perempuan bernama Inde’ Dou. Artinya Diskursus tentang relasi gender telah usai sejak awal dan tidak dalam perdebatan kosong atau sekadar ikut-ikutan kejebak oleh nalar liberal eropa semata.
4. Corak Politik apa yang berkembang sejak awal di Bolaang-Mongondow. Mulai dari politik nilai zaman persekutuan kampung. Dizaman Raja Tadohe/Sadohe, era tata negara awal dalam pengaturan lebih luas berhasil dibangun. Di Tudu’ in Bakid(kini Pontodon), kontrak sosial-politik antara PALOKO(warga, rakyat, masyarakat) dengan KINALANG(pemimpin, pemerintah) disepakati bentuk ”demokrasi khas” yang berlaku atas semua pihak. Saat bersentuhan dengan tradisi Eropa, sekolah modern dan birokrasi kolonial lahir dari proyek sekolah politik etis. Pergerakan politik kebangsaan menjamur dimana-mana. Sarekat Islam jadi simbol utama. Saat Orde Lama, mulai dari Permesta hingga peristiwa PKI tahun 1965, memberi warna politik di Bolaang Mongondow. Orde Baru menerapkan Politik Fusi Partai, sepanjang masa ini hampir semua terdisiplinkan. Situasi ikut berubah saat Reformasi bergulir hingga kini.
5. Bagaimana eksistensi Bolaang Mongondow dalam peta nasional dan Kawasan Asia. Seperti apa pola hubungan yang diterapkan di zaman kerajaan dengan negeri tetangga(Minahasa, Ternate-Tidore, Gorontalo, Sangihe, Talaud)?. Adakah sejarah perang besar dan lama dengan kerajaan lain?, bagaimana pasang surut siklus peran yang dimainkan oleh Bolaang Mongondow sejak zaman kerajaan hingga era politik modern?. Indikator ini akan membantu kita menemukan jarak jelajah kerajaan Bolaang Mongondow dalam sejarah. Fakta-fakta diranah ini, juga membantu menempatkan cara baca atas Bolaang Mongondow tidak hanya dalam konteks lokal, tapi juga nasional dan global. Tatapan utuh tentang peta relasi historis, akan menunjukkan berapa dalam patahan-patahan politik, ekonomi, dan sosial atas masyarakat Bolaang Mongondow.
Lima point diatas, setidaknya bisa menjadi ’pintu awal’ membaca Bolaang Mongondow dari apa yang bisa kita jangkau kini. Sekali lagi sejarah bisa multi-tafsir, tergantung dari sudut mana dan dasar kepentingan apa kita menafsirnya kembali. Ini adalah mata rantai pertama dari proses panjang membangun jati diri dan daya hidup masyarakat Bolaang Mongondow. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar